Haruskah Kita #RethinkToddlerPortionSizes?

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik mengenai #RethinkToddlerPortionSizes. Mungkin saya telat bacanya, karena artikel itu sudah diterbitkan dari bulan Juli lalu, tapi tetap menarik kok untuk diulas sekarang hehe.

Hashtag ini dikampanyekan oleh Infant and Toddler Forum (IFT), sebuah organisasi yang menyediakan panduan berbasis ilmiah mengenai tumbuh kembang bayi dan balita. Berdasarkan sebuah survei yang mereka lakukan di Inggris terhadap 1.000 orangtua, 79 persen dari responden ternyata memiliki kecenderungan untuk memberikan porsi makanan yang lebih banyak dari yang direkomendasikan oleh ilmuwan bagi balita usia satu sampai empat tahun, khususnya makanan yang populer di kalangan anak. Selain itu, 10 persen dari mereka juga memberikan jatah snack yang lebih banyak dari yang dibutuhkan. Nah loh?

cmly1eowiaan702
Infografis dari IFT

Kita sering dengar perkataan, “makan yang banyak ya, supaya cepat besar.” Sampai seolah-olah apapun dan seberapapun yang anak makan itu tidak masalah. Bahkan banyak yang masih memporsikan anak harus makan “segini” banyak karena porsi itu yang dianggap cukup. Jadi kalau ngga habis satu piring itu rasanya makannya kok kayak kurang ya. Menurut ahli gizi dari forum tersebut, kebiasaan memberikan makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan anak inilah yang perlahan-lahan menyebabkan obesitas di kemudian hari dan juga pola makan berlebih yang tidak sehat.

Sebagai penganut Baby-Led Weaning (BLW) sejak awal MPASI, saya tidak pernah memporsikan makan Arga. Semua kembali ke dia; mau makan banyak, sedikit, atau cuma comot-comot. Yang penting, saya konsisten menawarkan variasi makanan sehat pada setiap jam makan. Alhamdulillah, strategi ini berhasil membuat Arga ngga pernah GTM (walaupun ada masanya dia makan cuma sedikit, tapi tetap selalu ada yang masuk). Sempat sih ada masanya saya juga suka membandingkan porsi makanan Arga dengan porsi makanan anak2 lain di Instagram, dan itu malah buat saya stress. Padahal kan, belum tentu anak itu menghabiskan semua porsi yang ada di foto? Sama halnya dengan porsi2 makanan di IG saya, jangan stress duluan liatnya karena Arga ngga selalu menghabiskan seluruh porsi yang dipajang kok 😀  Semua anak berbeda ya, kita tidak bisa mematok porsi mana yang paling ideal.

Tapi tidak bisa disalahkan juga kekhawatiran orangtua akan porsi makan anak. Pada umumnya, orangtua memiliki ketakutan anak tidak cukup makan — atau ada yang justru ketakutan karena anak kebanyakan makan? Hehe. Kampanye ini menegaskan bahwa jika anak memiliki penambahan berat badan yang ideal dan bertahap, artinya mereka dalam kondisi sehat dan orangtua sebaiknya membiarkan anak makan sesuai kapasitasnya. Gill Harris, psikolog anak yang merupakan anggota ITF, mengatakan: “Balita pada umumnya secara alamiah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatur asupan makan dibandingkan anak yang lebih tua dan orang dewasa.” Contohnya saya, yang susah mengatur porsi cemilan haha. Kembali ke kata Gill Harris, “Balita biasanya hanya makan sebatas yang mereka butuhkan dan tidak memiliki kecenderungan untuk makan berlebih (overeating).” Karena itu, pemorsian makanan sangat penting menurut ITF.

Lalu seperti apa rekomendasi porsi satu kali makan anak usia 1-4 tahun yang dianjurkan oleh ITF berdasarkan hasil risetnya? Berikut saya share beberapa gambarnya:

Screen Shot 2016-11-13 at 4.23.18 PM.png
Buah-buahan
Screen Shot 2016-11-13 at 4.23.33 PM.png
Sayuran
screen-shot-2016-11-13-at-4-22-49-pm
Karbohidrat

Selebihnya bisa dilihat di: https://www.infantandtoddlerforum.org/portion-sizes-table-2015 

Sekarang kembali ke judul post ini, haruskah kita memporsikan ulang makanan balita kita? Untuk saya pribadi, sebenarnya tidak juga sih. Kembali ke prinsip BLW bahwa porsi makan terbaik adalah porsi makan yang dimakan oleh anak sesuai kemampuannya. Ya, tidak semua anak mampu makan porsi yang besar. Yang perlu kita batasi adalah makanan ringan dan makanan yang mengandung gula, karena tidak ada nutrisi yang substansial. Ada juga seorang ibu yang menulis bahwa anaknya makan jauh lebih banyak dari porsi yang direkomendasikan di atas, dan dia tidak semerta-merta mengurangi porsi makan anaknya karena ia merasa anaknya sangat aktif. Saya merasa ada benarnya juga, selama anak aktif dan memiliki kegiatan fisik yang cukup, obesitas tidak akan menghampiri.

Tapi rekomendasi pemorsian makan ini cukup mengangkat kekhawatiran saya, bahwa sebenarnya porsi makan anak yang cukup itu tidak sebanyak yang saya bayangkan (mungkin ada juga yang merasa begitu ketika lihat panduan ini?). Bahkan, seringnya Arga makan lebih banyak dari ini. Mungkin karena kita terbiasa membandingkan porsi makan balita dengan porsi makan anak yang lebih besar kali, ya. Apalagi dengan nasi yang segunung, padahal nasi paling cepat bikin kenyang 😀

Semoga post ini bisa membantu kita lebih bijak lagi dalam menyikapi porsi makan anak dan pola makan mereka yang unik ya 🙂

Thanks for reading!

Mom @atoddlersfooddiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s