Peran Ayah Dalam Keberhasilan ASI eksklusif (and Beyond…)

Kesadaran untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kini semakin meningkat di kalangan orangtua baru. Bahkan, banyak ibu di Indonesia yang merasa minder jika tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Padahal, semua ibu pasti selalu mengusahakan memberikan yang terbaik untuk anaknya ya kan. Jadi menurut saya kalau seorang ibu harus beralih ke sufor karena satu dan lain hal, bukan berarti ia ibu yang tidak baik. Let’s respect those mothers too.

Nah, kembali ke pemberian ASI eksklusif, di post ini saya ingin membahas mengenai peran ayah ASI. Karena berdasarkan pengalaman saya, serta riset para pakar menyusui, peran ayah sangat signifikan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Bayangkan, tingkat keberhasilan menyusui jika suami ikut berperan aktif adalah 90 persen, sedangkan bila tidak didukung suami, langsung drop ke angka 26 persen.

Infografis dari UDoctor mengenai peran ayah ASI

Saya masih ingat rasanya sakit dan lemas setelah operasi caesar (setelah mencapai pembukaan 10! :D). Suami saya adalah orang pertama yang mengganti popok Arga, mencuci dan merebus botol pompa, mengantongi ASI perah, dan menyendawakan Arga setelah menyusu. Saya termasuk beruntung karena waktu itu tugas utama saya hanya dua: memompa dan menyusui — setidaknya selama 2 minggu pertama. Sisanya, ada suami dan ibu saya yang mengurus. Alhasil di minggu pertama saja, stok ASI saya sudah cukup banyak karena saya selalu memompa ASI setiap 2-3 jam sejak hari ke-5. Saya merasakan betúl poin-poin yang terdapat di infografis di atas sangat membantu saya jadi rileks dan tidak kelelahan, sehingga ASI bisa keluar dengan lancar.

Tapi saya tahu tidak semua ibu seberuntung saya waktu itu. Apalagi di Indonesia belum ada yang namanya cuti hamil untuk suami. Jadi kalau ada tawaran bala bantuan dari ibu, adik, kakak, teman, atau siapapun yang bersedia mendampingi selama minggu-minggu pertama lahiran, please accept it! Bukannya manja, tapi minggu-minggu pertama kelahiran ini sangat penting untuk membangun supply ASI ibu. Apalagi tidak semua bayi langsung pintar menyusu sejak awal, sehingga butuh kesabaran untuk mendapatkan ritme menyusui yang tepat. Selain itu, dengan adanya bantuan dari orang terdekat, kita juga bisa fokus memompa ASI setiap 2-3 jam sekali. Menurut saya ini juga penting, karena semakin banyak kita menstimulasi ASI untuk keluar di awal (terlebih jika anak belum pintar menyusu), semakin banyak produksinya. Lebih baik kelebihan daripada kekurangan, kan? 🙂

Tentu akan sulit untuk rutin menyusui dan memompa setiap 2-3 jam kalau kita tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Bukannya ngga bisa atau ngga mungkin, tapi lebih berat 🙂 Karena itulah peran ayah dan orang terdekat, seberapapun kecilnya, sangat berarti dalam pemberian ASI eksklusif. Jadi kalau niatan untuk memberikan ASI eksklusif sudah ada, sebaiknya dikomunikasikan ke suami dan orang terdekat agar bisa sama2 mengatur perencanaan, sama2 menyiapkan tenaga (termasuk pola pikir soal ASI), sama2 membaca berbagai panduan menyusui, dan kalau perlu sama2 ikut kelas menyusui :D. Jangan lupa bahwa ada konsultan laktasi yang selalu bisa membantu jika diperlukan. Karena sesungguhnya, keberhasilan ASI eksklusif bukan semata-mata tanggung jawab ibu! Do you agree?

Xoxo, mom @atoddlersfooddiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s