My Lifesaver: Video Baby Monitor

Waktu masih hamil, saya rajin riset barang apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menyambut kelahiran Arga. Yang pertama kepikiran di otak adalah tempat tidur, baju, perawatan bayi, pompa dan botol, stroller, baby carrier (I’m a fan or Ergo Baby!), dan mainan. (Hampir tiap hari) googling kesana kesini, lihat apalagi yang diperlukan supaya jangan sampai ada yang ketinggalan. Maklum, ibu baru hehehe. Tapi waktu itu, persoalan baby monitor ngga terlintas sama sekali. Pertanyaan seperti apakah saya perlu alat monitor bayi? Ngga kepikiran sama sekali! πŸ˜€ dan cerita pun berlanjut…..

Awalnya, saya bertekad untuk mengajarkan Arga untuk tidur sendiri di boksnya sejak lahir. Boksnya saya taruh di sebelah tempat tidur saya persis, jadi saya ngga perlu susah-susah kalau malam dia menangis minta nyusu. Tapi saat dia lahir, minggu-minggu pertama gagal ditaruh di boks karena saya masih kesakitan untuk pindah posisi dari tiduran ke duduk pasca operasi SC dadakan. Jadi lebih enak ditaruh di sebelah saya persis, tinggal miring kalau mau nyusuin. Akhirnya kebawa tuh jadi beberapa minggu, enak juga nih nyusuin tinggal miring HAHAHA. Setelah itu, saat mau ditaruh di boks, Arganya jadi nangis2 terus dan ngga happy tidurnya. Dasar emak-emak baru, langsung ngga tegaan dan bawaannya pingin gendongin terus. Apalagi saya tinggalnya di apartment yang suara antartetangga itu lumayan kedengeran. Saya jadi insecure kalau ninggalin Arga nangis kelamaan, nanti dikira jadi ibu ngga bertanggung jawab :p. Okay, singkat cerita, saya gagal total mau ngajarin dia tidur di boks.

Begitu masuk usia 6 bulan, mulai deh Arga tidurnya muter 360 derajat. Miring ke kanan dan ke kiri, atas bawah, dan kadang ngerangkak sambil tidur (heya!). Beberapa kali kepikiran mau nurunin kasur ke bawah, tapi sekali lagi, apartment saya sempit cuma seuprit. Akhirnya saya pakai sistem tumpuk bantal di kanan, kiri, dan bawah tempat tidur. Tapi bawaannya tetap khawatiran, jadi ujung-ujungnya sering nemenin Arga di kamar supaya bisa ngeliatin (jadi kurang produktif hiks). Lalu suami saya yang pertama kepikiran, “Kita beli baby monitor aja, yuk?” Saya beneran belum paham banget apa itu baby monitor waktu itu. Akhirnya riset kesana kesini untuk nyari baby monitor yang pas, dan ternyata tipe dan model baby monitor itu buanyaaak banget. Mulai dari yang murah sampai super mahal dan canggih ada semua. Karena sayang duit (hihihi), saya memutuskan beli monitor Motorola yang tanpa video. Jadi merk-merk yang cukup populer di kelas baby monitor itu ada Motorola, Philips Avent, dan Samsung. Kebetulan monitor Motorola pertama saya itu cukup terjangkau dan reviewnya sangat bagus. Kelemahannya ya adalah dia ngga punya fungsi video, hanya suara aja. Ini penampakannya:

b009ozmqyu_motorola-mbp8-img1
Motorola MBP11
Jadi monitor yang sebelah kanan, yang hanya ada tombol on/off itu dipasang di kamar anak. Harus dicolok ke stop kontak. Lalu yang sebelah kiri, dicolok juga di ruangan lain tempat kita beraktivitas (misalnya dapur atau ruang keluarga). Monitor ini memonitor suara dengan jernih dan jelas banget, jadi misalnya bayi kita ngigo atau gerak, kan ada suara krasak krusuk, itu ketangkep sama monitor ini. Apalagi suara mau nangis ya, karena Arga tipenya kalau mau nangis ada suara pelan pembukanya dulu hehe. Suara-suara ini kalau ngga pakai monitor tentunya ngga kedengeran sama saya. Jadi ada suara dikit, hap, saya langsung ngintip ke kamar. Awal-awal saya masih puas dengan monitor ini. Tapi lama-lama kayaknya masih kurang aman. Apalagi Arga semakin besar. Untuk yang anaknya tidur di boks, mungkin aman-aman aja pakai ini karena intinya anak terlindungi dalam boks dan suara kedengeran. Tapi saya baru menyadari bahwa ternyata yang saya butuhkan adalah video monitor, bukan sekedar audio monitor. Karena waktu Arga tidur itu lah saatnya saya masak, beres-beres rumah, atau kerja, jadi saya butuh alat pengaman yang bisa diandalkan saat dia tidur. Akhirnya saya pun mulai mencari lagi video monitor yang cukup terjangkau dan reviewnya bagus. Karena saya puas dengan kualitas Motorola, pilihan saya akhirnya jatuh ke Motorola lagi. Banyaaak yang lebih canggih, tapi harganya tentu lebih mahal. Saya juga merasa Motorola ini sudah memiliki semua fitur yang saya butuhkan, jadi ngga perlu canggih-canggih amat hehe. Ini dia lifesaver saya:

motorola-mbp26-wireless-video-monitor
Motorola MBP26
Kita mulai dari kamera yang kiri ya, kamera ini dicolok dan ditaruh di kamar bayi. Kabelnya super panjang, jadi kemungkinan besar sejauh apapun jarak colokan ke tempat tidur, tetap bisa sampai. Kamera ini bisa ditempel di dinding jadi semacam CCTV atau ditaruh dimanapun dekat anak. Saya sendiri ditempel di dinding, jadi satu kasur bisa kelihatan karena anglenya dari atas. Nah, monitor di sebelah kanan adalah monitor yang bisa kita bawa-bawa dalam rumah untuk melihat pergerakan anak. Ini pakai baterai, jadi ngga harus selalu dicolok. Tapi baterainya cepet banget habis, jadi mau ngga mau seringnya sambil dicolok juga sih :’) . Tenang, kabelnya super panjang πŸ™‚ Yang saya suka, gambar dan kualitas suaranya jernih. Sinyalnya juga selalu bagus. Gambar ngga pakai ngelag2 gitu, lancar siang dan malam (kalau malam ada night vision, tetap jelas walaupun kamar gelap gulita). Monitor ini juga bisa untuk komunikasi dua arah, semacam walkie talkie. Jeleknya, monitor ini sedikit mengganggu koneksi wifi di rumah. Jadi kalau alat ini nyala, kadang koneksi wifi untuk internet suka agak lamban. But so far, saya tetap happy dengan pilihan saya ini – dan saya sudah kebayang monitor ini akan bisa terus kepakai sampai Arga usia balita. Termasuk kalau nanti dia sudah bisa tidur di kamar sendiri πŸ˜€ Berikut gambar monitornya in action ketika kameranya saya taruh di samping dia:

IMG_2768.JPG
Halo! Udah bangun πŸ™‚
IMG_2770.JPG
Masih merem
IMG_2772.JPG
Ganti posisi
Untuk harga, kedua alat ini saya beli di Jerman. Harganya relatif lebih murah disana, tapi mungkin di Indonesia juga ada koleksi baby monitor lainnya yang cukup kompetitif dari segi harga. Saya sempat intip Lazada, Motorola MBP11 dijual dengan harga Rp699.000 dan MBP26 Rp dijual di Tokopedia seharga Rp1.799.000.

Jadi kembali ke kebutuhan tiap ibu, ngga semua ibu butuh baby monitor ya. Tapi buat saya, alat ini adalah penyelamat dan jadi urutan pertama dalam daftar baby safety gear saya. Berkat alat ini, saya bisa tenang masak di dapur, kerja di depan laptop di ruang keluarga, bersih-bersih, dll, karena saya bisa sambil tetap mengawasi Arga setiap saat πŸ™‚ What’s your favorite baby safety gear?

Love,

Mom @atoddlersfooddiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s