Bisakah Mengkombinasikan SF dengan BLW?

Topik ini sepertinya cukup banyak ditanyakan oleh ibu-ibu yang sedang MPASI, khususnya ibu-ibu yang memilih metode SF saat awal MPASI. Jadi sekarang saya mau sharing pengalaman dan pendapat saya mengenai hal ini, tapi bukan berarti pendapat saya yang paling benar ya, ini murni hanya opini pribadi setelah menjalankan BLW selama 13 bulan. Tapi ketika membaca ini, mudah-mudahan semua sudah memahami perbedaan BLW (Baby-led Weaning) dan SF (Spoonfeeding). Karena kalau mau bahas perbedaannya, bisa dapat satu post sendiri lagi πŸ˜€ Nanti saya akan bahas di postingan terpisah beserta pro dan kontranya ya. Sekarang kita langsung ke topik utamanya dulu, bisakah mengkombinasikan SF dengan BLW?

Sebagai penganut BLW, saya tidak membutakan menyuapi anak. Jangan salah, saya pernah menemui dan membaca blog beberapa ibu yang saklek menerapkan BLW ke anaknya dan menganggap mengkombinasikan BLW dengan SF itu salah. Dan kalau sudah terlanjur SF, namanya bukan BLW. Tapi untuk saya pribadi, mengkombinasikan keduanya sangat mungkin dan sangat lumrah. Pertama, anak bukan robot yang bisa ‘disetting’ dengan satu metode tertentu, kadang kita harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kedua, BLW ataupun SF keduanya sama-sama membantu anak mendapatkan nutrisi terbaik untuk perkembangan mereka, jadi kembali lagi tujuan kita memberi MPASI adalah supaya anak tetap sehat dan bisa berkembang secara optimal ya kan. Berikut tips-tips dari saya bagi yang ingin mengkombinasikan SF dengan BLW.

1. Ikuti lead anak

BLW mendorong orangtua untuk mengikuti lead anak dalam mengatur porsi makannya. Sedangkan ketika kita melakukan SF, kita memiliki kecenderungan lebih besar untuk membujuk anak makan lebih banyak dari yang mereka inginkan atau butuhkan. Tanpa kita sadari, terkadang kita jadi memaksa anak untuk makan. Menurut saya ini yang harus dihindari, karena bisa berakibat fatal jika anak trauma makan. Ketika saya memilih menyuapi Arga karena kondisi tertentu (sedang berpergian, teksturnya sulit dipegang, atau lagi pingin aja hehe), saya tetap berusaha mengikuti lead-nya. Pelan-pelan saya ajari untuk memberi tanda ‘kenyang’ atau ‘mau lagi’. Intinya, tetap menghargai keputusan anak untuk makan semampu mereka dan sebisa mungkin menghindari power struggle dalam urusan makan. Dengan sendirinya, anak akan menyukai makan 😊

2. Berikan kesempatan untuk bereksplorasi dengan makanan

Salah satu keuntungan BLW yang sangat saya rasakan adalah bagaimana metode ini melatih motorik halus dan kepekaan anak terhadap beragam tekstur. Semacam permainan sensory play yang lagi ngetrend sekarang, bereksplorasi dengan makanan juga salah satu sensory play. Daripada dikasih mainan ketika sedang disuapi, lebih baik diberikan finger food atau sendok berisi puree untuk dieksplorasi. Kalau tiba-tiba masuk mulut, nah, bonus kan! Hehehe. Jadi bagi orangtua yang memilih metode SF, bukan berarti anak tidak bisa diajarkan untuk makan sendiri juga sejak awal. Anak akan belajar jika diberikan kesempatan. Kalau ternyata anak lebih memilih makan sendiri dengan sendirinya, let them, yang penting mereka makan. Karena anak juga memiliki preferensi sendiri dalam hal makan. Walaupun metode MPASI Arga adalah BLW, ada saatnya dia juga menikmati disuapi. Kembali lagi, ikuti lead anak.

3. Berikan variasi makanan dan tekstur

Dulu, makanan bayi identik dengan bubur. Tapi metode BLW membuktikan bahwa bayi dengan perkembangan normal sejak usia enam (6) bulan sudah mampu memakan makanan keluarga dengan potongan dan bumbu yang disesuaikan (tanpa gula garam). Bahkan tanpa gigi sekalipun, anak sudah bisa mengunyah perlahan. Jadi supaya anak tidak bosan, dan tidak terlambat ‘naik tekstur’, coba berikan juga ragam makanan dan tekstur sejak awal MPASI, disamping memberikan bubur bayi. Supaya mudah, apa yang menjadi campuran bubur bayi pada hari itu juga bisa diberikan dalam bentuk potongan. Jadi ngga perlu memasak 2x yah. Selama bayi tidak memiliki reaksi alergi, mereka juga sudah boleh makan apa saja YANG SEHAT dan ALAMI, tapi tidak termasuk madu untuk anak di bawah 12 bulan.

4. Trust your instinct

Insting ibu seringkali adalah benar. Kalau ibu merasa BLW kurang tepat sebagai metode utama MPASI, jangan dilakukan. Kalau ibu mau mengkombinasikan BLW dan SF, silakan; saya juga melakukan. Kalau ibu mau murni SF, ngga apa2 juga. Yang penting ibu sudah well-informed, anak mendapatkan nutrisi terbaik, dan seluruh keluarga menikmati prosesnya.

Baca juga: Pentingnya Menciptakan Rutinitas Makan Bersama

Saya ngga merasa anak akan ‘bingung makan’, sejenis ‘bingung puting’ hahaha, kalau pun kita memilih untuk mengkombinasikan BLW dan SF. Yang penting tetap konsisten dengan batasan-batasan makan yang kita buat, misalnya untuk saya, tidak menyuapi sambil jalan-jalan dan sebisa mungkin duduk, tidak memaksa Arga untuk makan lebih dari yang ia mampu, dan tidak terlalu sering memberikan makanan yang mengandung gula.

Selamat memberikan MPASI! 😊

Love,

Mom @atoddlersfooddiary
 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s