Travel Essentials Vs. Nonessentials Untuk Perjalanan Long-Flight

First of all, happy new year 2017! 🤗

Akhirnya saya bisa kembali menulis blog lagi setelah hampir sebulan disibukkan dengan tugas kuliah dan pindahan kembali ke Hamburg. Mumpung pengalaman long-flight saya masih fresh di ingatan, saya mau sharing mengenai ini 😀 Tapi sebelum menceritakan detail pengalaman terbangnya, saya mau share terlebih dahulu travel essentials dan nonessentials versi saya, supaya memudahkan ketika cerita pengalaman di pesawatnya nanti. Dalam post ini, saya akan buat daftar barang apa saja yang saya rasa bermanfaat dan kurang bermanfaat dalam perjalanan long-flight saya. Sebelumnya, saya sempat cari juga apa yang dikategorikan sebagai perjalanan long-flight. Menurut berbagai sumber, tolak ukurnya berbeda. Tapi saya ambil garis besarnya saja, sebuah penerbangan dikategorikan long-flight jika waktu terbangnya lebih dari 5 jam. Tapi kayaknya kalau bawa baby semua penerbangan jadi long ya 😂😅

Nah, daftar bawaan yang kurang bermanfaat bagi saya disini bukan berarti tidak bermanfaat bagi orang lain ya, ini murni berdasarkan preferensi saya saja 😊 Dan travel items ini juga bukan travel items detail yang mencakup semua bawaan Arga sampai ke perintilan terakhir, tapi lebih ke travel items secara umum yang membantu meringkankan perjalanan di bandara dan juga di udara. Ini dia checklistnya:

Travel Essentials

  • Baby Carrier/Stroller

Untuk perjalanan long-flight, biasanya kita membawa koper yang cukup berat dan juga bawaan kabin yang cukup banyak. Untuk memudahkan proses x-ray, yang mana kita harus mengangkat dan menurunkan koper, dan juga proses imigrasi dan perjalanan ke gate yang biasanya cukup panjang, saya memilih menggendong Arga di baby carrier. Saya pakai Ergo Baby 360 Carrier karena paling pas untuk saya dan Arga. Dia bisa tidur dengan nyaman disana, dan saya juga bisa menyusui sambil jalan tanpa terlihat dari luar. Yeay! Ketika lewat pemeriksaan x-ray, kita ngga perlu melepas bayi dari gendongan, jadi ini sangat praktis. Tapi yang memilih membawa stroller, stroller bisa dibawa sampai kita persis mau masuk pesawat. Di bandara tempat transit biasanya juga ada penyewaan stroller.

  • Diaper Bag

Diaper bag yang praktis sangat penting untuk memudahkan kita membawa amunisi terbang. Saran saya, pilih diaper bag yang juga bisa jadi tas untuk ibu/ayah. Saya bawa barang sedikit sekali kalau terbang long-flight, cuma HP, dompet, dan dokumen untuk terbang. Jadi tiga barang ini saya masukkan di compartment khusus di diaper bag Arga. Alhasil bawaan saya cuma si diaper bag ini plus koper kabin kecil yang isinya laptop, alat make-up, dan beberapa baju yang ngga muat di koper besar. Dua diaper bags andalan saya yang cukup nyaman dibawa travelling dan compartmentnya juga banyak adalah Babymel dan BabyGo Cosmo Handbag (gambar bisa dilihat di IG mereka: @babygoinc).

babymelsatchel-2
Babymel Diaper Bag

 

 

 

 

 

 

 

  • Pakaian yang Nyaman

Pakaian yang hangat penting banget untuk perjalanan long-flight naik pesawat. Kalau takut panas, bawa cardigan yang bisa dilepas-pasang. Arga selalu saya pakaikan body, lalu pakai sweater dan celana yang nyaman. Jangan lupa kaos kaki dan sepatu yang nyaman juga. Gaya-gayaan nomor sekian deh, nyaman nomor satu 😛 Saya biasanya bawa dua set baju ganti di diaper bag atau koper kabin. Saya ganti baju minimal satu kali ketika transit, dan yang satu lagi untuk jaga-jaga kalau baju kotor atau basah.

Bagi ibu menyusui, penting juga untuk memakai baju yang enak dan gampang untuk menyusui. Khususnya kalau anaknya kayak Arga, yang sumber kenyamanan nomor satunya adalah nenen 😅

  • Banyak Snack dan Minuman

Kalau sudah naik pesawat, apalagi long-flight, Arga udah ngga kenal yang namanya jadwal makan. Ngemil mode on! Snack bisa jadi amunisi ketika bosan dan juga untuk mengatasi tekanan di udara supaya telinga ngga sakit. Saat take-off, landing, dan turbulence kan bayi harus digendong di pangkuan dengan seatbelt terpasang selama entah berapa lama. Snack dan nenen adalah dua senjata utama saya yang sukses bikin Arga tenang di pangkuan. Snack yang saya bawa biasanya adalah biskuit bayi beberapa macam dan roti kesukaan (simpel dan praktis). Minum air putih di botol juga penting supaya ngga repot bolak balik minta ke pramugari.

  • Mainan dan Buku

Saya punya strategi untuk bawa mainan dan buku baru (atau yang sudah lama ngga dipakai/dibaca juga bisa) untuk menemani perjalanan di pesawat. Ngga harus mainan mahal, pokoknya barang apa saja yang belum pernah/jarang dia mainin. Mainan dan buku ini tentu harus yang ringan ya, karena kita ada weight limit di kabin. Ketika di pesawat, mainan ini saya kasih satu persatu saat Arga sedang cranky atau bosan berat. Selama dia masih bisa bertahan anteng dengan items yang ada di pesawat (seperti majalah, remote TV, TV, seatbelt, gelas, sendok, dll), mainan itu ngga saya kasih dulu. Pokoknya disimpan untuk emergency.

Yes, that’s it! Ngga banyak kan? 😉 Semakin sering berpergian sama Arga, bawaan saya jadi lebih ringkas dan ringan. Dulu saya pernah bawa beberapa items di bawah ini, tapi akhirnya saya merasa barang-barang ini kurang berguna untuk saya dan Arga selama di perjalanan. Akhirnya saya mengkategorikan barang ini sebagai travel nonessentials versi saya, yang artinya tidak pernah saya bawa lagi ketika berpergian:

  • Earmuff

Waktu mau terbang pertama kali, saya sedia dua tipe earmuff, yang seperti headband dan yang disumpel masuk telinga. Dua-duanya ngga ada yang sukses di Arga 😂 😂 Pertama, dia ngga betah pakainya. Kedua, manfaatnya juga kurang kalau menurut saya. Untuk mengatasi tekanan di udara, saya biasa menyusui atau kasih snack ketika take-off dan landing. Mengenai suara bising mesin pesawat, justru bikin Arga bisa tidur lelap karena bunyinya mirip white noise 🤣 jadi yah, saya kurang merasakan manfaatnya pakai earmuff ini. Cuma buat lucu-lucuan aja kalau difoto naik pesawat kali ya.

  • Bantal Travel Baby

Bantal travel untuk di pesawat ini juga kurang terasa manfaatnya untuk saya, kecuali anak sudah agak besar dan sudah duduk sendiri di kursinya. Tapi kalau masih dipangku atau tidur di bassinet pesawat, bantal ini ngga terlalu berguna. Apalagi di pesawat kita bebas minta bantal dan selimut sebanyak apapun yang kita butuh. Jadi yah, saya memilih untuk save tempat dengan ngga bawa bantal ini lagi. Bikin bawaan jadi gendut soalnya hehe.

  • Travel Matress

Saya pernah bawa matras ini karena saya suka konsepnya. Cuma sayang, kurang berhasil untuk saya dan Arga 😔 Jadi matras SkyBaby ini ditujukan untuk memudahkan orang dewasa yang memangku bayinya tidur di pesawat. Menurut info produknya, bisa dipakai dari usia 0-2 tahun tergantung ukuran bayi. Tapi pas saya coba malah ribet, Arga malah lebih suka tidur di pangkuan saya aja seperti biasa. Tapi bagi yang tertarik coba, info produknya bisa dilihat di: http://sky-baby.co.uk/the-product/ .

Bagi yang bayinya masih kecil di bawah 11 kg dan panjangnya juga memadai (saya lupa batasnya), biasanya penerbangan long-flight menyediakan bassinet bayi yang bisa di-book sebelumnya. Jadi kalau tidur tinggal ditaruh disitu. Tapi sayang, sejak pertama kali terbang Arga sudah kepanjangan jadi ngga muat (padahal dia masih 9 bulan waktu itu) 😓😳 Jadi saya ngga bisa review soal ini huhu. Oh ya, bassinet ini hanya bisa dipakai untuk tidur aja ya menurut pramugari saya waktu itu. Kalau posisi duduk bayinya harus dipangku.

product-image-large1
SkyBaby Matress (Image: Google)

 

 

 

 

1476408312440
Contoh baby bassinet di economy class (Image: Google)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Homemade, Complete Meal

Saya pro makanan homemade, tapi ketika travelling, saya memilih praktis dan ngga merepotkan diri sendiri. Maksudnya complete meal disini itu bekal makan besar kayak nasi dengan sayur dan lauk pauk – pokoknya satu porsi makan di rumah. Saya pernah loh beberapa kali coba bawa makan besar homemade untuk Arga, tapi ternyata ngga kesentuh sama sekali dan malah bikin penuh tas. Kenapa? Ketika long-flight, makanan yang diberikan sangat berlimpah. Mulai dari makanan berat, roti, muffin, biskuit, keju, coklat, buah, semua ada. Jadi Arga lebih tertarik makan itu (sharing sama saya) daripada bekalnya (yang juga udah dingin). Bahkan kita bisa request baby food kalau memang perlu. Baby food ini biasanya food jar merk Heinz dan semacamnya. Saya pernah juga suapin Arga baby food ini ketika long-flight dulu, dan dia mau. Selain itu, kalau lagi long-flight juga entah kenapa mood Arga lebih ke ngemil dan nenen, bukan makan. Mungkin karena suasananya asing dan baru buat dia. Ngga mungkin dong ya kita kejar-kejaran sambil makan di pesawat. Jadi saya siasati dengan cemilan biskuit bayi, makanan instan/beli di airport, dan makanan dari pesawat lainnya. Kalau mau susu tambahan, bagi yang udah di atas satu tahun juga bisa minta susu UHT. Jadi setelah travel beberapa kali bawa makanan homemade yang berat, saya memutuskan untuk ngga bawa lagi.

Itu dia daftar travel nonessentials versi saya 😬 Sekali lagi, ini berdasarkan preferensi saya dan pengalaman pribadi saja. Kita semua yang paling tahu yang terbaik untuk anak kita, so let’s prepare wisely! 🤗

Di post berikutnya, saya akan share detail pengalaman long-flight saya bersama Arga saat dia 9 bulan, 12 bulan, 15 bulan, dan 20 bulan. See you in my next post!

Love,

Mom @atoddlersfooddiary

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s