Our Long-Flight Experience

Post ini adalah lanjutan dari post sebelumnya mengenai travel essentials vs. nonessentials ketika travelling. Dalam post ini, saya akan menceritakan pengalaman long-flight saya bersama Arga, baik di bandara maupun di pesawat. Saya akan coba share semua perjalanan long-flight kami dari yang pertama sampai yang keempat, walaupun kayaknya yang paling detail hanya yang pertama dan keempat karena itu yang paling masih segar di ingatan. Setiap pengalaman lumayan berbeda experiencenya, karena tentu perbedaan umur dan milestone Arga saat itu berpengaruh terhadap keseluruhan pengalaman terbang. Bagi yang belum baca post sebelumnya, please read it first, karena akan lebih memudahkan untuk membaca post ini 😊

So, here we go:

  • 1 Februari 2016 (9 bulan) – Hamburg-Jakarta

Ini dia penerbangan pertama Arga dalam hidupnya, dan langsung long-flight pula πŸ˜…. Saya pakai Emirates (economy class) dengan rute Hamburg-Dubai (6 jam++), transit di Dubai selama 4 jam++, lalu lanjut Dubai-Jakarta (8jam++). Modal nekad perginya cuma bertiga ditemani ibu saya karena suami masih ada seminar. Beberapa hari sebelum terbang, saya sudah request tempat duduk bassinet untuk baby. Tempat duduk bassinet ini paling depan, jadi space untuk kakinya juga cukup luas. Tapi sayang bassinet seat yang tersedia saat itu cuma untuk penerbangan Dubai-Jakarta (yang ternyata Arga ngga bisa pakai juga karena udah kepanjanganΒ πŸ˜‚ tapi at least legroom-nya luas 😊). Jadi penerbangan Hamburg-Dubai saya harus pangku Arga di tempat duduk biasa dengan legroom yang sempit.

Saya memilih waktu terbang jam 21:00 malam waktu setempat. Harapan saya, Arga bisa tidur pulas sepanjang perjalanan. Tapi ternyata pesawatnya delay sekitar satu jam waktu itu. Jadi Arga udah ngantuk berat begitu mau naik pesawat. Kalau saya ngga salah ingat, Arga udah sempat ketiduran dalam gendongan begitu mau antri masuk pesawat. Kami boleh masuk duluan karena bawa bayi, jadi cepat. Tapi begitu masuk pesawat, kami duduk (Arga harus dikeluarin dari Ergo dan pakai seatbelt extension untuk baby), lampu terang benderang, orang masuk dan naikkin koper, persiapan take-off, dll, Arga malah kebangun. Harapan saya bahwa Arga bisa tidur itu ternyata ngga kejadian πŸ˜‚ Awal-awal dia excited lihat interior pesawat, megang remote, mainin majalah, lihat jendela, dll. Lama-lama dia jadi overtired dan rewel, sempat nangis beberapa kali karena ngantuk mau tidur tapi ngga bisa karena pesawat belum gelap. Saya susuin, kasih empeng (waktu itu Arga masih pakai empeng), gendong-gendong ganti posisi, tapi ngga sampai berdiri karena saya duduk dekat jendela. Lama-lama bisa tidur juga.. Ngga lama ada bayi di bassinet nangis, jadi deh mereka nangis sahut-sahutan hahaha. Sempat stress juga karena itu pesawat udah gelap, orang-orang udah pada tidur. Tapi untung ngga ada yang sampai komplain, kalau ada yang komplain mungkin saya bakal down karena baru pengalaman pertama πŸ˜… Akhirnya kami pun mendarat di Dubai. Langsung Arga tidur puleeeees banget di Ergo setelah ganti popok dan baju.

img_1551
Transit di Dubai – Abaikan muka saya

Lanjut perjalanan Dubai ke Jakarta, akhirnya kami dapat tempat duduk di bulkhead dengan legroom yang luas. Arga udah dapat tidur, jadi lebih tenang. Dalam perjalanan ini dia ngga terlalu rewel, masih banyak tidur karena sisa kecapekan semalam. Arga juga belum bisa jalan waktu itu, jadi anteng aja main di kursi. Makannya tetap mau, walaupun banyakan nenennya lebih dari biasanya. Saya request baby food dalam jar, terus dia juga makan roti, keju, dan makanan pesawat lainnya. Sampai akhirnya kami mendarat di Jakarta jam 22:00, Arga masih segar. Padahal mamanya capek luar biasa karena ngga bisa tidur πŸ˜… Jadilah Arga jetlag, baru bisa tidur jam 04:00 pagi. Tapi saya beruntung jetlagnya cuma sehari aja, malam besoknya dia udah tidur seperti biasa. Padahal ngga saya apa-apain. Good boy!

img_1552
Sampai di Jakarta

 

  • 1 MeiΒ 2016 (12 bulan) – Jakarta – Hamburg

Setelah merayakan ultah pertama di Jakarta, it’s time to go back nyusul papanya. Penerbangan kali ini ditemani sama mama dan papa mertua, alias nenek kakeknya Arga. Kami langsung dapat tempat di bulkhead seperti yang lalu. Tadinya saya mau ambil penerbangan tengah malam lagi, tapi saya kapok takut kejadian kayak yang kemarin Arga justru ngga bisa tidur. Akhirnya saya ganti waktu penerbangan jadi pagi jam 07:25. Subuh-subuh Arga diangkut dari rumah ke bandara. Ini dia kebangun yah, tapi ngga cranky. Oh ya, saat penerbangan ini kami berdua lagi flu berat! Haduh πŸ˜“Tapi alhamdulillah Arga ngga rewel. Asal ada mama, nenen, roti, dan cemilan. Ada sih saatnya nangis-nangis dikit, tapi ngga lama. Yang suka bikin nangis itu kalau tidur kan digendong miring, nah dia capek kali ya ngga bisa ganti-ganti posisi enak kayak tiduran terlentang. Waktu itu Arga sudah bisa jalan dikit-dikit sambil ditatah. Jadi sudah mulai main di lantai pesawat (di kaki saya), jalan ke depan toilet, lihat ke jendela darurat, dll. Pokoknya perjalanan ini cukup santai, karena kami berempat jadi bisa bergantian jaga Arga. Sampai Hamburg lagi malam hari, Arga langsung pules tidur sampai pagi. No jetlag this time! Hore!

  • 12 Agustus 2016 (15 bulan) – Hamburg – Jakarta

Akhirnyaaa perjalanan kali ini ditemani suami. Ada temannya juga waktu itu satu orang, jadi kami bertiga. Tempat duduk aman dapat di bassinet seat. Arga sudah bisa jalan, jadi yang pasti makin aktif. Saya pilih penerbangan sore sekitar jam 16:00 dengan alasan yang sama, kapok terbang malam πŸ˜› Karena ada papanya, penerbangan ini juga cukup santai. Bahkan dia cenderung excited, sepanjang penerbangan dan transit dia banyakan mainnya daripada tidurnya. Jadi begitu mau mendarat di Jakarta, kira-kira setengah jam sebelum mendarat, dia overtired dan nangis heboh. Saat itu kami semua sudah harus duduk dengan seatbelt terpasang ngga boleh berdiri lagi. TV pesawat sudah harus dimatikan. Asli mati gaya. Akhirnya pasrah aja suasana mau mendarat ditemani sama suara Arga nangis heboh lumayan lama πŸ˜‚ Pas mau turun orang-orang pada ngomong “kasian yah, anaknya capek ya?”. Untungnya ngga ada yang jutekin hahaha.

Waktu itu jetlagnya juga lumayan beberapa hari, tidurnya subuh terus. Saya coba sebisa mungkin pagi tetap dibangunin, supaya jadwalnya bisa cepat balik. Jadi misalnya jam 04:00 subuh baru tidur, jam 10:00 saya bangunin. Jadi ngga dibiarin bablas sampai siang banget. Setelah dua sampai tiga hari akhirnya normal kembali.

  • 26 Desember 2016 (20 bulan) – Jakarta – Hamburg

Penerbangan terakhir kemarin kami pulang berempat, Arga, saya, suami, dan ibu saya. Arga lagi suka-sukanya sama pesawat. Beneran terpana kalau lihat pesawat. Jadi super excited udah ngerti mau naik pesawat. Dari beberapa hari sebelumnya saya udah ajak ngobrol mau naik pesawat, beli buku pesawat, dll. Rekor di penerbangan ini Arga ngga nangis sama sekali dari Jakarta sampai Hamburg. Tapi oh tapi, dia diare di perjalanan 🀣 saya sampai ganti popok lima kali di pesawat. Jadi di pesawat itu ada changing tablenya juga di kamar mandi. Tapi ukurannya super imut gitu kan, jadi biasanya salah satu dari saya atau suami di dalam, satunya lagi di luar dengan pintu terbuka untuk bantu-bantu. Ini pengalaman banget ya, diare di pesawat. Haha. Makannya lancar seperti biasa, tidur juga. Thank God. Sekarang kan badan Arga udah panjang, jadi kalau tidur, sandaran tangan antara saya dan suami diangkat supaya kepala Arga bisa di suami dan kaki di saya – atau sebaliknya. Arga juga banyak lesehan di legroom, karena yang pasti udah ngga betah duduk lama di kursi. Kalau turbulence supaya mau duduk harus disogok pakai cemilan, TV, atau iPad. Gadget bisa jadi dewa penyelamat deh pokoknya kalau lagi long-flight begini.

 

IMG_9813

Jadi perjalanan terakhir ini bisa dikatakan paling mulus dan sukses ya. Cuma paling capek juga karena Arga harus banyak diajak main. Saya sendiri prefer bawa bayi kecil yang belum terlalu bisa banyak interaksi dibandingkan yang udah gede dan banyak maunya ini itu hehehe. Cuma ya semunya jadi pengalaman ngga terlupakan πŸ€— Saya belum terbayang kalau suatu hari harus terbang berdua sama Arga. Bagi mommies yang sudah pernah terbang panjang sama balitanya, salut deh 😍

Terakhir, saya mau sharing tips dan trik singkat untuk menghadapi long-flight dengan balita:

  1. Siapin tenaga dan mental. Percayalah, long-flightΒ dengan balitaΒ membutuhkan tenaga dan mental yang kuat. Kalau anaknya nangis, pasang muka tembok aja dan ngga usah panik, konsen untuk nenangin anaknya aja dan ngga usah mikirin orang lain.
  2. Pilih jadwal penerbangan yang tepat. Seperti sharing saya di atas, saya menghindari jam penerbangan malam hari karena Arga justru malah susah tidur. Tapi kalau anaknya bisa tidur dengan kondisi apapun, enak juga pakai penerbangan malam karena bisa sekalian istirahat.
  3. Be creative. Kalau lagi terbang jauh, yang ada dalam pikiran saya cuma kapan sampe kapan sampe. Bolak balik cek info penerbangan, ternyata masih 6 jam 30 menit lagi πŸ˜… jadi harus kreatif untuk bisa melewati waktu dengan anak, jangan sampai kita stuck dan anak bosan. Banyak barang di pesawat yang bisa dijadikan mainan juga, seperti remote (walaupun risiko salah pencet manggil pramugari hihi), sandaran kursi, pamflet, dan majalah. Biasanya maskapai juga akan ngasih sesuatu untuk anak.
  4. Entertainment. Mainan lama yang udah jarang dimainin, mainan baru yang kecil-kecil, buku, gadget, semua disiapin di tempat yang mudah dijangkau. Jangan sampai harus bolak balik buka bagasi kabin karena barangnya terpencar dimana-mana.

Next flight: 28 Agustus 2017 to Jakarta! Tapi kali ini udah duduk di kursi sendiri karena udah dua tahun β™₯️

Love,

Mom @atoddlersfooddiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s