The End of Our Breastfeeding Journey

Semua ibu punya cerita menyusuinya masing-masing. Suka dukanya, perjuangannya, kesenangannya, kesulitannya, dan masih banyak lagi emosi yang campur aduk lainnya. Saya sendiri ngga pernah menyangka kalau perjalanan menyusui saya ternyata akan meninggalkan kesan yang begitu dalam. Awalnya, saya pikir menyusui hanya sekedar ‘menyusui’. Tapi ternyata, setelah 22 bulan dan 10 hari lamanya saya menyusui Arga siang dan malam, banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini. Belajar jadi lebih sabar dan disiplin adalah salah satunya.

Target saya dari awal adalah menyusui Arga sampai umur dua tahun jika memang masih mampu. Ngga ngoyo, benar-benar sesuai kemampuan saja. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa saya akan menyusui lebih lama dari itu karena Arga ‘anak nenen’ banget 🙊

Tapi ketika saya pikir perjalanan menyusui saya seperti ngga akan berujung, ketika saya merasa Arga akan susah banget berhenti, dan ketika saya bingung bagaimana harus memulai proses weaning with love (WWL) yang saya inginkan, tiba-tiba saat ini saya sedang menulis post ini. Post yang akan menceritakan bagaimana akhirnya Arga berhenti menyusu dengan proses WWL seminggu yang lalu. Lucunya, selama ini saya terlalu fokus dengan bagaimana Arga bisa berhenti menyusu, sampai saya lupa bahwa proses WWL melibatkan dua pihak. Saya dan dia. Saya sampai lupa menyiapkan diri saya sendiri (khususnya mental) bahwa akhir perjalanan menyusui ini juga berat untuk saya. Seandainya bisa kembali lagi ke minggu lalu, saya mau lebih menikmati hari-hari terakhir menyusui saya karena itu adalah pengalaman yang tidak bisa diulang kembali. Tapi yah, bahwa pada akhirnya saya bisa sukses WWL, tanpa drama dan tanpa cry it out, saya cuma bisa bersyukur. Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi para ibu yang masih menyusui 🤗

IMG_6589
Flashback ke usia Arga tiga hari, hari pertama ASI saya keluar

Awal bulan Februari, saya sudah ancang-ancang menyiapkan tempat tidur sendiri untuk Arga. Selama ini kami bobok bareng. Saya pikir dengan tidur berjauhan dari saya dan suami, dia bisa lebih nyenyak tidurnya dan ngga kepingin menyusu tengah malam. Jujur aja, Arga suka gelisah tidurnya tengah malam karena senggol-senggolan tidurnya bertiga. Pokoknya begitu saya dan suami naik ke tempat tidur, dia mulai gelisah tidurnya. Padahal sebelum kami naik, dia anteng-anteng aja tidurnya. Satu-satunya cara yang ampuh untuk bikin dia tenang lagi hanyalah dengan menyusu. Dan itu seringkali bukan menyusu beneran, tapi cuma ‘ngempeng’. Biasanya subuh baru deh dia nyusu beneran (karena kedengeran suara glek glek-nya). Lumayan juga kan ya, jadi empeng sepanjang malam 😂 Selain menyiapkan tempat tidur sendiri, saya juga sudah mulai membiasakan Arga minum susu tambahan dari awal tahun, walaupun minumnya masih tergantung mood. Awalnya, niatan saya benar-benar cuma ingin memberhentikan Arga menyusu tengah malam. Kalau sempat lihat cerita di IG saya, saya bilang saya sedang ngajarin night weaning, dan sebenarnya memang itu yang ingin saya ajarkan. Nah, setelah Arga mulai nyaman dengan tempat tidurnya sendiri, pelan-pelan saya mulai minta papanya untuk nidurin sebelum tidur malam. Pagi sampai malam saya tetap menyusui on demand, tapi beberapa jam sebelum tidur malam saya stop dan ganti dengan susu biasa.

Saya bilang, “Arga ngga lagi nenen sama mama sebelum tidur ya, ASI mama habis. Arga coba tidur sama papa, ya.”

IMG_5375
Tempat tidur ala ala Montessori

Beberapa hari dicoba, berhasil. Arga mau tidur sama papanya tanpa menyusu sama saya, walaupun sempat nangis juga nyariin saya (nangisnya ngga heboh). Tapi walaupun sudah berhasil ditidurin tanpa menyusu, tengah malam kalau gelisah dia tetap nyari saya dan ngga mau ditenangin sama papanya. Dikasih air putih ngga selalu mau. Tetap minta “Mama, nenen, nenen, nenen”. Padahal, dia sudah makan banyak dan minum susu banyak sebelum tidur sampai dia kekenyangan. Disitu saya semakin sadar bahwa bukan ASI yang Arga mau, tapi kenyamanan bersama saya. Dengan kata lain, memutuskan untuk menyapih Arga bukan berarti sekedar menghilangkan ASI-nya, tapi juga ’empeng’nya.

Karena saya memang ngga mau membiarkan dia nangis lama tengah malam (salah satu alasannya karena saya tinggal di apartment yang ngga kedap suara), akhirnya lagi-lagi saya harus mengalah dan menyusui dia di tempat tidurnya sampai dia tidur kembali. Seperti yang saya tulis di atas, nyusunya pun cuma seperti ngempeng aja, bukan benar-benar minum. Tapi, terbukti sejak dia pindah ke tempat tidur sendiri, dia tidurnya lebih tenang, ngga se-fussy kalau tidur bertiga. Sampai di hari keempat, Arga tiba-tiba ngga mau lagi ditidurin sama papanya. Protes maunya sama saya. Akhirnya saya menyusui dia malam itu sambil bilang “Arga, kita berhenti nenen malam yuk. Besok kita beli buku ya kalau Arga bisa berhenti nenen malam ini.” Saya ulang-ulang terus, saya fokusin ke hadiah beli bukunya haha. Ternyata ngga sampai beberapa jam kemudian setelah dia tidur, dia gelisah lagi dan cuma bisa ditenangin dengan menyusu. Sambil ngantuk-ngantuk saya mikir, wah, gagal lagi nih malam ini. Ternyata, siapa yang nyangka, itu adalah terakhir kalinya saya menyusui Arga 😦😭

IMG_6774
Jaman masih mompa setiap 3 jam sekali

Besoknya, saya tetap beliin Arga apa yang saya janjikan karena akhirnya semalam dia hanya bangun satu kali itu saja buat nyusu. Sepanjang hari saya ulang-ulang kalau dia sudah besar, yuk berhenti nenen malam. Tapi ngga sengaja di hari itu kami pergi seharian. Tentu kalau di luar lebih gampang mengalihkan perhatian dia supaya ngga minta nenen. Sampai di rumah udah mulai malam, nanggung mau disusuin. Akhirnya saya pikir, yasudah ngga usah disusuin aja sekalian. Sebelum tidur, tetap saya kasih susu seperti biasa dan habis. Entah dapat suntikan semangat darimana, malam itu saya pede bisa nidurin Arga sendiri tanpa menyusui. Setiap dia minta nyusu, saya ajak ngobrol dan kasih pengertian. Pasti ya dia sempat nangis bingung kok saya ngga mau nyusuin. Tapi saya konsisten, pas dia nangis saya peluk dan tenangin pakai trik berhitung.

Ini salah satu trik menenangkan Arga kalau lagi tantrum yang cukup berhasil, caranya, saya peluk sambil berhitung dengan suara tenang satu sampai sepuluh diulang-ulang pelan di dekat telinganya. Biasanya ngga sampai dua puluh dia sudah berhenti nangis karena fokus sama suara hitungan saya.

Setelah dia berhenti nangis, saya ajak baca buku lagi, nyanyi, pelukan, bercanda, dan hal-hal lainnya yang jarang kami lakukan bersama sebelum tidur karena biasanya kami hanya menyusui dan disusui sampai tertidur. Malam itu beda, kami bercanda sampai kecapekan lalu… ketiduran. Dia tidur di pelukan saya, tanpa disusui, tanpa nenen, tanpa nangis yang berlama-lama. Saya kaget, ngga sadar sudah hampir 24 jam Arga ngga menyusu. Tantangan selanjutnya: gimana kalau dia minta menyusu malam itu?

Sesuai dugaan, sekitar tengah malam Arga mulai gelisah. Susah juga sih, karena kami masih tidur dalam satu kamar, kalau saya bikin suara-suara dia suka gelisah. Saya sama suami suka ngetik sampai malam di kamar, jadilah Arga suka keganggu (derita punya anak light sleeper 😂). Tapi mental saya masih mental pede nih, mau coba menenangkan Arga tanpa harus menyusui. Saya usap-usap punggungnya, saya peluk, saya bisikkin pelan kalau Arga tidak nenen ya. Dia akhirnya sedikit terbangun dan minta minum. Saya kasih air putih, lalu dia minta saya peluk dan tidur lagi. Berlanjut sampai pagi, yang artinya 24 jam lebih sudah saya tidak menyusui Arga. Siang itu sambil mandi saya merasa PD mulai kencang, ditekan sedikit ASI mengalir keluar. Deras. Saya sedih banget, langsung merasa bersalah, apakah terlalu cepat? Mau dikemanain ASI yang masih keluar ini? FYI, semua botol-botol dan pompa sudah masuk gudang. Perasaan kebagi dua, setengah pingin nyusuin Arga saat itu juga, setengah pingin lanjut berhenti menyusui karena sudah sejauh itu. Akhirnya, saya menyerah sama pikiran untuk berhenti menyusui dan saya perah ASI saya dengan tangan sekedarnya hanya supaya PD tidak bengkak. Pokoknya itu hari yang cukup emosional buat saya karena saya baru beneran ‘ngeh’ kalau perjalanan menyusui saya sudah hampir berakhir, atau bahkan benar-benar berakhir.

Hari berikutnya, Arga mulai lebih mudah diberi pengertian. Susunya saya tambahkan porsinya jadi sekitar 300-400 ml per hari, yang kurang lebihnya selalu habis. Tidur siang dan malam pun tetap selalu saya yang menemani, dan selalu saya sendiri yang memberi pengertian kenapa dia harus berhenti menyusu. Begitu terus sampai akhirnya di hari kelima, dia berhenti minta nenen. Berhenti menti menyusu. Berhenti. Ketika tadinya saya pikir akan lebih mudah mengalihkan tugas nidurin Arga ke papanya supaya dia lupa menyusu sama saya, ternyata justru sebaliknya. Saya tetap bisa berada di sampingnya SEKALIGUS membuat dia berhenti menyusui.

Kalau kebangun tengah malam, Arga cuma minta peluk, diusap-usap, atau minum air putih sedikit lalu tidur lagi. Yang penting saya ada disana, dan tidak masalah untuk dia untuk tidak menyusu. Ini juga yang bikin saya sadar bahwa kebangun tengah malam tidak selalu berarti lapar, seperti kepercayaan kebanyakan orang dulu.

Singkat cerita, tahu-tahu sudah lima hari Arga berhenti nyusu. SO FAST, dari yang awalnya niatan saya hanya ingin night weaning, ternyata Arga benar-benar full weaning. Transisi yang sangat cepat ini sempat bikin saya nangis. Ya, ternyata saya kangen menyusui. Saya kangen ‘ditodong’ nenen di waktu-waktu ajaib, kangen meluk dia sambil lihat matanya kalau lagi khusyuk menyusui, kangen lihat mulutnya yang gemes dan suara glek-gleknya minum ASI – pemandangan yang saya lihat setiap hari, siang dan malam, selama hampir dua tahun. Sejujurnya saya agak ngga siap berhenti secepat ini dan sempat merasa bersalah juga apa saya terlalu memaksakan Arga berhenti menyusu? Saya pikir karena akan susah menyapih dia, sebaiknya saya ancang-ancang dari sebulan sebelum saya mau berhenti total. Tahunya malah berhenti total beneran. Tapi saya pikir, pointnya WWL adalah berhenti menyusui dengan cinta. Kalau dipikir-pikir lagi, saya tidak pernah memaksa Arga secara berlebihan untuk berhenti menyusu; saya hanya memberi pengertian dan ternyata dia mengerti. Saya tetap ada disana setiap kali dia menangis. Saya juga tetap ada disana setiap kali dia butuh saya di malam hari.

Hanya saja, kami sudah menemukan cara baru untuk saling menenangkan, dan itu bukan lagi menyusui. Lewat cara baru ini kami kembali bisa membangun intimacy yang saya pikir cuma bisa didapat dari menyusui. Ternyata tidak, banyak cara lain. Justru, di satu sisi saya merasa jadi semakin dekat dengan Arga karena kami bisa melakukan banyak hal lain bersama di waktu kami biasa menyusu. Jadi pada akhirnya, rasa bersalah itu hilang, walaupun rasa kangen menyusuinya sepertinya akan terus ada.

ASI saya pelan-pelan mulai menurun produksinya. Kalau masih terasa penuh, saya perah seadanya saja dengan tangan lalu dicampur ke susu cairnya (dibuang sayang). Refleks pingin menyusui masih suka muncul, tapi akhirnya saya ganti dengan pelukan yang erat. Anak mama sudah besaaar! 🤗

Yes, it’s the end of our breastfeeding journey, and we are happy ❤️

IMG_5661
Bye breastmilk! Now it’s time for ice cream!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Thank you for reading!

Mom @atoddlersfooddiary

PS: Please, enjoy your breastfeeding moment while it lasts.

13 thoughts on “The End of Our Breastfeeding Journey

  1. Mom ak baca ini mau nangis loh! Ak ngrasain juga, cm asiku yg smakin sdikit (babyku umur 16bln mom). Sebenernya mamanya yg keberatan mau lepas kasih nenen ke anaknya. Krn ak bener2 nikmatin masa2 kasih breastfeed lgsg ke baby ku. Jd ak skr bela2in pompa dirutinin Lg deh 😭😭 ternyata begini yaa perasaannyaa haha

    Like

    1. Iya momm, ternyata gimana pun capeknya nyusuin anak, itu tetep jadi momen yang berharga 😂 aku juga baru kerasa sedihnya pas bener2 berhenti nyusuin. Semangat pokoknya mom selama masih mau dan mampu, keep on breastfeeding. Happy mommy happy baby ❤❤ makasih yaa udah baca 🙏🏻

      Like

  2. Waaa cepet banget. Ajaib. Alhamdulillah. Jadi arga usia brp disapih? 20 bulan ya? Riyadh masih 15 bulan Dan aku blm tau gmn sapihnya nanti. Tidur malam masih ga ketebak, bisa sering bangun, bisa cuman 1-2x aja. Pas nyusu ini dia aktif nyusu, mom kl LDR berasa. Kl arga ga gitu ya? Beneran ngempeng?

    Like

    1. Ajaib ya mom, alhamdulillah cuma 5 hari berhasil disapih. Aku pikir bakal sebulanan 😓 Arga kemarin 22 bulan lewat beberapa hari umurnya pas berhenti. Aku biasain nyusunya dari pagi sampai malam, jadi kalau malam sebenarnya dia udah ngga perlu susu lagi. Memang di atas setahun ini nyusu malam biasanya buat comfort aja, walaupun ada ASI yang keluar. Dan ngga bagus juga buat gigi mom, walaupun ASI ya. Setelah aku sapih sekarang tidurnya bisa lebih nyenyak. Coba pelan2 dipindah aja mom nyusunya banyakin di pagi sampai malam, jadi pas tidur malam bisa berhenti nyusu. Nanti pas bangun langsung nyusu lagi ngga apa2.. 😉

      Like

      1. Aku baru kenalin susu ultra baru-baru ini aja, si Mama Arga. Baru berani kasih yg 125 ml langsung, sehari satu. Coba deh nanti aku kasih juga kalau mau tidur. Kl anak ga bangun saat malam kan emak bs istirohat juga ya, hihihihii.

        Like

  3. Halo, mom Arga. Saya Puji, ibunya Ai (12 bulan). salam kenal ya 😊
    Saya mau ngucapin makasih banget atas sharingnya. Nangis saya baca ya mom 😢 juga mengubah keinginan saya buat nyapih dini Ai, setelah sadar lewat tulisan mom Arga kalau sapih bakal berat bukan cuma bagi Ai tapi juga saya 😢
    Saya stay at home mom, jadi 24 jam bener2 sama anak. Daaan, Ai bener2 anak nenen banget 😂 Padahal ASI saya udah sedikit. Saya kebiasaan nidurin Ai pake nenen. Alhasil kalau Ai kebangun, ga akan mempan kalau cuma ditepuk2. Kadang ngerasa kerjaan rumah ga beres2 karena saya harus ada di sampingnya, nenen di saat dia kebangun. Itu siang dan malam mom 😂 Ditambah lagi, Ai ga suka pake dot, ga pake empeng, ga pernah pake teether (fase oral pun dia udah terpuaskan sama ngempeng nenen)…yang artinya kenyamanan dia hanya waktu nenen aja, yang ku pikir, entah kapan akan berujung 😂
    Pas baca tulisan mom Arga, sepertinya saya lebih rela jadi empeng Ai, sampai nanti Ai bisa diberi pengertian kalau sudah waktunya berhenti nenen 😊

    makasih sekali lagi mom Arga, sehat selalu yaa Arga dan keluarga 🙂

    Like

    1. Halo mom Ai, salam kenal juga. Makasih ya udah mampir ke blog ini 😊 bener banget mom, selama masih menikmati proses menyusui, sebaiknya diteruskan aja. Ngga ada yang menuntut kita untuk cepat2 menyapih anak kok kecuali memang kitanya sudah ngga enjoy 😉 Kalau ASI sedikit mungkin bisa dibantu dengan power pumping atau susu tambahan. Tapi intinya disini kan kenyamanan sama anak 🤗 Saya juga ngerasain rasanya ngga bisa ngapa2in, sampai ngerasa waktu banyak kebuang cuma buat nenenin aja dan pekerjaan lainnya terbengkalai hehe. Tapi begitu udah berhenti nenen, beneran kangen loh karena itu masa2 yang intim banget dan ngga bisa keulang. Jadi kalau bisa, dimulai dengan indah dan diakhiri dengan indah juga tanpa paksaan. Selama kita bisa dan mampu ya mom 😀 Amiin semoga mom sekeluarga juga sehat selalu yaa 😊

      Like

  4. Huaaaa sedih bacanya..
    Anak saya sekarang 14m, in syaa Allah nanti ketika dy 18m akan saya tinggal beribadah ke tanah suci, apakah saya harus mulai coba wwl sebelum saya berangkat kah mom ??
    Untuk stok asip alhamdulillah masih ada di freezer asi..
    Yg saya khawatirkan apakah dy akan bisa tidur tanpa nenen saat saya sedang tdk ada ya ??
    Hhuuu jd ikutan sedih..
    Klo utk susu lain sudah saya perkenalan dg uht & fresh milk tapi hanya sebagai snack nya dy aja karna sehari2 saat saya bekerja dy minum asip di dot..

    Kisahnya sangat menginspirasi semoga saya & anak saya aqsha bisa wwl jg, aamiiin..

    Like

    1. Amiin mom.. Kalau kita udah niat wwl, pasti ada jalan 🙂 Bagus dong kalau masih ada stock asip. Positive thinking aja pasti babynya bisa tidur tanpa nenen. Biasanya sih, dari pengalaman saya juga, kalau anak ditidurin sama orang lain pas kitanya ngga ada mereka akan tidur2 aja. Ngga akan minta nenen ke orang lain hihihi. Paling mesti cari cara baru yg bisa bikin mereka nyaman kayak digendong, dinyanyiin, atau dibacain buku. Semangat dan selamat beribadah ke tanah suci yaa momm..

      Like

  5. I feel you Ibu nya Arga.. Ternyata semua perasaan Ibu-ibu sama saat menyapih anaknya. Sedih dan kangen menyusui, padahal breastfeeding time ga selalu menyenangkan. Dari ASI ga keluar dihari pertama, luka sampai berdarah karena belum latch on sampai luka karena digigit (ini bikin nangis tiap waktu menyusui). Anak ku yg pertama disapih saat usia 17bln karena saat itu aku sedang hamil adiknya. Tadinya pengen terus menyusui sampai dia mau berhenti sendiri. Tapi dokterku ga izinin dengan pertimbangan kesehatan perkembangan janin dan nipple nya sakit bgt sampe bikin nangis tiap menyusui. Memang harus dibulatkan niat untuk menyapih karena banyakan perasaan ga tega nya. Walaupun ga bisa weaning with love, akhirnya bisa menyapih di usia kehamilan 3bln tanpa pakai pait2an atau cairan2 yg harus dioles ke nipple. Proses menyapihnya dimulai dengan mengurangi frekuensi menyusui, kasih liat video anak bayi nenen sambil dikasi pengertian kalo yg nenen itu bayi sampe pake drama nangis selama sejam tiap tengah malem. Dan aku berhasil menyapih dalam waktu 3hr. Tapi setelah sukses nyapih galau hahahaha. Dan sekarang lagi menyusui “lagi” adiknya. Semoga kali ini bisa menyusui sampai 2thn. Aamiin!

    Like

    1. Iya, mbak, salah satu perasaan tersedih adalah menyapih anak ternyata ya. Hehe apalagi setelah lewat usia 12 bulan, saat menyusui udah jadi aktivitas sehari-hari yang rasanya natural banget kayak makan dan tidur. Tapi semua hal indah pasti ada akhirnya. Aku juga ngga sabar ngerasain menyusui lagi kalau nanti Arga punya adik hahaha. Selamat menikmati menyusui edisi kedua, semoga bisa tercapai sampai 2 tahun 😊

      PS: maafkan reply saya yang sangat telat ini huhu

      Like

  6. Hai mom..ini saya beneran nangis seada2nya skrg habis baca tulisan ini. Anak saya 21mos dan sdg proses WWL, lebih tepatnya sudah sebulanan night weaning…lama bangettt jalan ditempat karena sayanya mendadak merasa kehilangan dan ga siap…hiks. Tapi setelah baja tulisan ini, jadi ada motivasi lagi… Terimakasih mom… Menginspirasi sekali 😊❤

    Like

    1. Hai mom.. thank you for your kind words ♥️🤗 kita sebagai ibu bisa saling belajar dan memotivasi dari pengalaman satu sama lain 😚untuk sekarang dinikmati aja prosesnya selagi masih bisa hihi. Selamat WWL ya mom..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s