Mengajak Anak (Laki-Laki) Bermain Masak-Masakkan?

Walaupun jarang, saya pernah mendapat pertanyaan, “anak laki-laki kok main masak-masakkan?” – entah dari teman atau keluarga (khususnya yang belum punya anak). Memang, Arga saya belikan dapur-dapuran dan segala “perkakas” memasaknya untuk bermain di rumah. Pertanyaan di atas bikin saya berpikir: memang apa yang salah dengan anak laki-laki main masak-masakkan?


Ayah saya suka masak, suami saya suka masak. Banyak resep dari IG saya yang dimasak oleh suami saya tanpa bantuan sama sekali, termasuk menulis resepnya. Menurut saya, tugas memasak bukan tugas perempuan atau laki-laki. Bahkan kayakya lebih banyak chef laki-laki ketimbang perempuan di industri kuliner. Jadi ya, memasak itu suatu keterampilan hidup dasar yang sangat krusial menurut saya, terlepas dari apapun gendernya πŸ˜…

Arga sekarang umurnya baru dua tahun. Seperti anak laki-laki pada umumnya, dia lebih memilih aktifitas fisik daripada melakukan aktifitas duduk, terobesi sama mobil-mobilan dan alat transportasi lainnya, tapi dia juga suka…. masak. Jika saya perhatikan, ternyata main masak-masakkan melatih imajinasi, komunikasi, dan kordinasinya. Bonusnya, yang amat sangat saya syukuri, dia jadi lebih menghargai makanan. Dia ngga cuma tau makan aja, tapi dia juga tau bahwa untuk menghidangkan makanan di atas meja itu butuh proses. Telur perlu diambil dari tempatnya, dipecahkan, dikasih bumbu, dikocok, dituang ke atas panci, lalu dimasak. Saya mau Arga tau semua itu sejak kecil hehe.

Dari yang awalnya hanya main masak-masakkan di dapur mainan, saya mulai melibatkan Arga dalam proses memasak di dapur. Walaupun harus ekstra hati-hati ya, tapi bagi saya kerepotan mengajak dia ikut masak itu sebanding dengan manfaatnya. Saya belikan dia pisau mainan yang bisa memotong makanan lunak, saya ajari mengaduk saus, menguleni adonan, memetik sayuran, mengaduk di panci, menabur sesuatu, dan lain lain. Dan, hey, dia menikmati itu semua! 😘


Setelah makanannya jadi, saya bisa lihat muka bangganya berhasil memasak sesuatu, sekecil apapun kontribusinya dalam masakan itu hehe. Dalam proses makannya sendiri, dia jadi lebih excited dan menghargai makanannya (bisa bilang “yummy” berkali-kali misalnya, walaupun rasanya standar aja sih πŸ˜…). Jadi bisa dibilang, mengajari Arga memasak sejak kecil adalah cara saya mengajarkan Arga menghargai dan mencintai makanan. Khususnya ketika dia besar nanti, saya mau dia sudah punya keterampilan memasak supaya bisa survive dimanapun dia berada. 

Jadi ini hanya sharing singkat pengalaman dan manfaat yang saya rasakan saja dengan mengajak Arga memasak dan main masak-masakkan. Kalau ditanya lagi kenapa saya mengajak anak laki-laki saya main masak-masakkan, please, karena memasak itu adalah life skill! πŸ˜ƒ

Love,

Mom @atoddlersfooddiary

 

 

3 thoughts on “Mengajak Anak (Laki-Laki) Bermain Masak-Masakkan?

  1. Setuju bgt mbak πŸ™‚ aku jg heran klo ada yg heran ‘knp anak laki main masak-masakan’. Lha klo pergi makan dimanapun, mulai dr warung sampe hotel bintang 5, yg masak mayoritas laki-laki lho. Mosok yo orang2 itu gak pernah notice πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s