Pro Kontra BLW

Dengan ramainya komentar negatif terhadap BLW akhir-akhir ini, saya jadi ingin ikutan membahas dari kacamata saya sebagai seorang ibu BLW. Yang jelas saya BLW bukan karena mengikuti Andien atau artis lainnya, ya iyalah, Arga aja sekarang udah mau 2,5 tahun 🀣 Tapi baru kali ini ngerasa agak sedih kalau metode MPASI yang saya pilih 22 bulan yang lalu ini sekarang “dihujat” oleh banyak kalangan yang terkesan menggeneralisir BLW. Setelah perseteruan ASI vs. Sufor, akankah sekarang berlanjut jadi ada kubu SF dan BLW? Sayang banget ya buibuk…

Yang mengikuti cerita BLW Arga dari awal, pasti tahu dari cerita-cerita saya kalau Arga juga seringkali saya suapin kalau dia lagi mood disuapi. Yes, walaupun metode BLW adalah metode MPASI yang saya pilih sejak dia enam bulan, saya ngga menjadikan itu harga mati. Namanya anak-anak yah, bukan robot, ngga ada metode absolut yang setting-annya paling ‘pas’. Dinamika sehari-hari berperan penting dalam pemberian makanan anak. Keputusan saya untuk memilih BLW juga bukan keputusan asal-asalan, tapi keputusan yang saya ambil setelah banyak baca, meresapi, sharing, konsultasi dokter, dan lain-lain. Yang paling sreg di hati saya saat itu adalah BLW, dan dengan segala konsekuensi dan risikonya pun saya jalani. Jika saya memilih metode SF sekalipun, segala konsekuensi dan risikonya pun saya yang jalanin, bukan orang lain. Yang saya sayangkan adalah orangtua yang mengikuti aliran BLW karena ikut-ikutan dan mau jadi anti-mainstream. Tapi kalau sudah diresapi dan dipahami, ya monggo.

Karena saya tinggal di luar Indonesia, memang campur tangan keluarga dalam pemberian MPASI sangat kecil, jadi saya bisa 100% (semangatnya) menjalankan BLW. Berbeda dengan pengalaman banyak ibu BLW lainnya yang mungkin mendapat tentangan dari keluarga karena di Indonesia metode ini masih sangat tidak familiar. Sebenarnya di tempat saya tinggal di Jerman, metode ini juga metode yang baru populer sih. Tapi pada kenyataannya hampir semua ibu sudah terbiasa menerapkan BLW (atau kombinasi dengan SF) ke anaknya tanpa mengetahui apa BLW itu sendiri. Karena yang menarik disini adalah konsep BLW itu, bukan pengemasan BLW sebagai sebuah metode MPASI modern yang anti-mainstream. Belum lagi ada beberapa ibu yang memilih anaknya ikut jadi vegetarian mengikuti pola makan keluarga, sesuatu yang belum pernah saya lihat di Indonesia selama ini. Sering menjumpai “culture shock” dalam hal parenting selama tinggal disini sedikit banyak membuka mata saya kalau jurus parenting ngga cuma itu-itu aja. Kita tinggal mengambil apa yang menurut kita baik dan membuang yang kurang baik. Ngga perlu nyinyir πŸ˜†

Satu konsep yang saya pegang di hati sampai sekarang adalah: trust your baby! That simple. Mau disuapin, mau makan sendiri, percayalah dia bisa mengatur porsi makannya sendiri, lapar dan kenyangnya sendiri. Udah sih itu aja. Tugas kita hanya menyiapkan alternatif makanan yang sehat dan padat gizi sesuai standar WHO, menciptakan situasi makan yang menyenangkan, dan mencontohkan pola makan sehat. Jadi bukan sekedar mau pamer kalau bayi enam bulan bisa menggigit, mengunyah, dan menelan makanan padat dan bisa makan sendiri. Sungguh bukan. Walaupun yah pada kenyataannya saya tetap amazed dengan seberapa banyak yang bisa mereka lakukan pada usia itu, if only we let them explore.

Menurut saya, seharusnya kedatangan BLW sebagai metode MPASI ini disikapi dengan bijak. Dicari tahu dulu konsepnya, manfaatnya, risikonya, dan konsekuensinya. Bagi ibu yang anaknya ngga suka disuapi, GTM, atau ngga suka tekstur bubur (yes, banyak anak seperti itu!), bukankah BLW ini bisa dilihat jadi alternatif MPASI dibandingkan kita harus stress “memaksa” anak makan dan malah mencap mereka anak susah makan? Kembali lagi, dengan pemahaman yang baik semua bisa kita timbang baik buruknya. Baik SF dan BLW punya manfaat dan risiko masing-masing.

Banyak tudingan terhadap BLW yang saya lihat kesannya terlalu menggebu-gebu dan memojokkan tanpa basis yang kuat. Walaupun BLW, saya ngga pernah kepikiran mau nulis kalau metode BLW itu lebih baik dari SF. Karena saya tau semua kondisi dan situasi ibu dan anak berbeda, tidak bisa disamakan. Apa yang menjadi manfaat bagi saya belum tentu menjadi manfaat bagi orang lain. Walaupun BLW, Arga tetap aja ada episode malas makan, picky, dan lain-lain. Jadi BLW bukan jaminan anak akan makan dengan mandiri setiap saat, tapi saya tetap happy dengan pilihan saya. Intinya kan, ibu dan anak bahagia, dan gizi tercukupi. Alhamdulillah, ternyata waktu cek zat besi di usia dua tahun zat besi Arga tercukupi dan semua milestonenya tercapai. That’s my simple happiness.

Jadi dengan banyaknya tudingan negatif terhadap di luar sana, saya cuma bisa bilang, yuk sama-sama bangun kritik yang membangun ke sesama ibu, bukan kritik yang menjatuhkan. Kita semua hanya ingin yang terbaik untuk anak kita, ya bukan? 😊 Peace! πŸ™ŒπŸ»

Love,

@atoddlersfooddiary

One thought on “Pro Kontra BLW

  1. iya ya mau pakai metode apa kan terserah orang tuanya…kan bukan berarti metode yang kita pakai itu nggak menarik atau salah..sebagian besar masalah we-culture sebetulnya adalah masalah org lain hehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s