My VBAC Story

Akhirnya.. tiga minggu setelahΒ Kean lahir, baru bisa duduk manis menulis cerita VBAC ini. Jujur aja, pengalaman VBAC saya ngga seindah dan semulus yang saya bayangkan (spoiler: saya berakhir dua malam di ICU 😬). Tapi sharing saya ini sama sekali ngga bermaksud bikin ciut buibu yang mau mencoba VBAC ya, justru mudah-mudahan bisa diambil positifnya dari cerita saya. Walaupun ngga seindah itu, saya ngga nyesal udah memilih VBAC (malah sangat bersyukur!). Dan menurut saya, mau lahiran normal ataupun c-section, dua-duanya sama beratnya. Jadi sebelum mulai cerita, saya mau bilang bahwa semua ibu hebat, terlepas dari apapun metode melahirkannya πŸ€—

Ok, here’s the story….

Kontraksi saya berawal jam 01:00 dini hari, usia kandungan 39+4, dan saya langsung merasa bahwa kontraksi itu adalah kontraksi beneran, bukan sekedar kontraksi palsu (braxton hicks). Saya langsung inisiatif pakai contraction timer di app di HP dan alhasil semalaman ngga bisa tidur karena kontraksi semakin lama semakin dekat, dari yang awalnya hanya setiap 15-20 menit sekali, pagi itu sudah setiap lima menit sekali. Suami sudah saya bangunin dari jam 03:00 pagi dan saya sudah bilang untuk siap-siap ke RS kalau kontraksi sudah setiap lima menit sekali. Akhirnya jam 06:30 kami panggil taksi dan kami pun meluncurβ€”sudah siap dengan hospital bag πŸš•

Jarak apartemen dan RS cuma tujuh menit. Sampai sana, langsung dipasang CTG dan check pembukaan. Sempet deg-degan disuruh pulang lagi, tapi CTG menunjukkan bahwa setiap lima menit sudah ada kontraksi kuat dan bidan bilang saya boleh tinggal. Yeay! Tapi, saya baru pembukaan 1 πŸ˜… Akhirnya bidannya suruh saya jalan-jalan dulu selama dua jam. Dua jam itu saya coba jalan-jalan di komplek RS sambil sarapan. Tapi baru 1,5 jam, saya sudah kesakitan banget dan saya minta balik lagi saja ke station melahirkan untuk cek pembukaan. Ternyata baru pembukaan 2 🀧

Dimonitor CTG

Akhirnya kami diarahkan ke ruang lahiran karena saya bilang mau tiduran. Saya juga minta pain killer agar bisa istirahat sedikit, badan sudah lumayan capek belum tidur dari semalam. Tapi karena pembukaan masih sedikit, saya belum bisa dipasangkan epidural. Akhirnya saya dikasih alternatif pain killer lain yang disuntik di paha, saya ngga tahu namanya apa. Lumayan manjur, saya bisa tidur sekitar dua jam kurang sampai jam 13:00an ✨

Ketika bangun, kontraksinya mulai kembali. Saya minta check pembukaan lagi, baru bukaan 3. Yak, saya disuruh jalan-jalan lagi πŸ˜… Tapi beneran, saya baru jalan di koridor aja sudah aduh-aduh setiap berapa langkah harus berhenti. Saya bilang ke suami, aku sudah ngga kuat nih jalan-jalan. Kita di kamar aja ya jalan-jalannya. Akhirnya kami coba pakai birthing ball di kamar sambil berharap pembukaan semakin maju. Saat itu kontraksi sudah semakin kuat dan konstan setiap lima menit atau bahkan kurang. Saya tetap paksain makan siang walau ngga laper dan berakhir muntah-muntah (salah satu efek samping dari pain killer-nya adalah pusing dan mual). Sore hari jam 16:00, bidan nawarin berendam di bathub pakai minyak lavender supaya rileks. Okelah mari dicoba πŸ‘ŒπŸ» Ngga sampai sejam, saya sudah ngga betah dan minta keluar, pindah lagi ke tempat tidur. Saya sudah mulai kecapekan dan hampir nyerah sama kontraksi yang semakin hebat, tapi suami terus nguatin dan ngingetin niatan saya buat lahiran normal. Sampai akhirnya jam 19:00 saya masuk bukaan 4 atau 5 gitu, dan datanglah dokter anastesi untuk pasang epidural. Alhamdulillaaahh.. 🌟🌟

Berendam pakai lavender oil

Pemasangan epidural ngga seberapa nyeremin dan sakit dibanding kontraksi yang udah semakin ngga nahan. Mungkin ada sekitar 30 menit prosesnya, dipandu oleh dua dokter karena posisi saya harus benar-benar rileks supaya jarumnya ngga salah tusuk. Setelah terpasang, saya dikasih satu alat yang ada tombolnyaβ€”dan tombol itu bisa saya pencet setiap 20 menit untuk mengalirkan bius ke tulang belakang. Saya berniat mau curi-curi tidur sebentar, eh tapi ngga berapa lama saya baru ngeh kontraksi saya cuma kebas di sisi kanan, di sisi kiri engga. Saya komplain dong ya haha dan disuruh tiduran ke arah kiri supaya biusnya bisa langsung ke area sana. Tetep loh ngga ngaruh πŸ’₯ Saya minta dipanggilin lagi dokter anestesinya karena ada kemungkinan epidural meleset, tapi doi entah dimana jadi saya nunggu sejam lebih dengan kontraksi hebat di satu sisi sampai ada dokter lain yang datang. Ngga lama sebelum dokter itu datang, saya sempat dicheck lagi pembukaannya oleh bidan shift malam (bidan udah ganti shift 3 kali sejak saya datang πŸ€ͺ), dan ternyata sudah pembukaan 9. Jadi waktu dokter anastesi datang lagi dan tahu saya sudah pembukaan 9, dia bilang epidural saya sudah ngga bisa diapa-apain. Soon, it’s time to push. Kesel mau marah sama dokternya 😭

Jam-jam kritis mau nyerah atau lanjut

Nunggu bukaan 10, literally the longest hours of my life. Emosi cuma berubah-ubah antara dua: nangis atau marah ke suami. Pokoknya jauh banget dari image ibu-ibu positive birth πŸ˜‚ Mau komplain, curhat, nanya ini itu ke bidan juga cuma bisa seadanya karena keterbatasan bahasa Jerman (apalagi lagi kesakitan, boro-boro kepikiran grammar πŸ˜…). Saya ngeliatin jam terus. Sudah dari jam 01:00 pagi kontraksi, sampai jam 22:00 malam belum juga bukaan lengkap. Beberapa kali saya bilang ke suami mau operasi saja saking sudah kehabisan tenaga dan kesakitan. Tapi entah suami kejam atau gimana, saya disuruh sabar terus 🀣 Lagipula karena persalinan saya ditangani oleh bidan, jelas mereka pro normal. Detik-detik terakhir saya sudah ngga konsen, kalau inget-inget sekarang kayak sudah blur aja. Pokoknya bidan sudah nyiapin perintilan melahirkan, dokter jaga juga sudah standby (akhirnya bidan manggil dokter karena dia melihat saya sudah kesakitan banget), dan saya sudah mulai merasakan sensasi harus ngeden. Sebagai info, di Jerman proses melahirkan tidak didampingi oleh dokter kandungan kita, melainkan dengan bidan dan/atau dokter jaga di RS pilihan. Jadi ngga bisa pilih ya, tergantung shift aja dapatnya siapa. Untungnya saya dapat dokter yang super baik dan sabar. Saya diajari cara mengejan yang benar dan saya ngeden terus di setiap kontraksi walaupun bidan masih bolak balik keluar ruangan. Di tahap ini saya juga sudah dikasih induksi oxytocin untuk mempercepat kelahiran.

Yang pertama keluar sayangnya bukan bayi, tapi panggilan alam nomor 2 (maaf TMI 🀣). This is the dirty truth ya hahaha. Ngga lama, ketuban saya pecah dan ternyata sudah berwarna hijau tua. Detak jantung bayi juga sudah mulai menunjukkan tanda-tanda stress, bahkan sempat hilang dan timbul. Akhirnya, dokter bilang dia mau melakukan episiotomi. Saya iyakan saja karena sudah ngga bisa mikir. Setelah mengejan entah berapa lama, dan di tengah-tengah proses itu sempat disuruh tahan dulu ngedennya supaya kepala bayi bisa menyesuaikan dengan jalan lahir (btw, nahan untuk ngga ngeden ini rasanya luar biasa), jam 23:35 lahirlah si adek dengan berat 3,535g dan panjang 51cm. Alhamdulillah rasanya terharu banget…. dan capek luar biasa setelah melewati hampir 23 jam persalinan πŸ˜… Kean langsung ditaruh di dada saya sambil saya lanjut ke tahap berikutnya: mengeluarkan plasenta.

Tahap terakhir ini ngga berjalan mulus. Dengan kontraksi yang masih berjalan (tapi tenaga sudah habis), saya coba mengejan lagi. Tapi plasentanya ngga keluar-keluar alias nyangkut. Dan akhirnya.. kombinasi dari durasi persalinan yang cukup lama, induksi oxytocin, episiotomi, dan plasenta nyangkut, saya pun berakhir dengan pendarahan sebanyak dua liter. Ngga lama saya langsung merasa mau pingsan, semua kunang-kunang dan berubah gelap. Untung saya masih sempat ngomong ke suami dan bidan, ngga langsung hilang kesadaran. Semua orang langsung panik. Kean langsung diambil dari dada saya dan dikasih ke papanya. Dokter dan bidan langsung melarikan saya ke ruang operasi sambil manggil-manggil nama saya supaya saya tetap sadar. Saya sudah pasrah dan sudah sempat mikir ngga akan selamat πŸ˜† Ingatan terakhir saya adalah dipasang bius di muka di ruang operasi, dan akhirnya semua gelap πŸŒ‘

Detik-detik sebelum pingsan πŸ˜‚

Ketika sadar, saya sudah di ICU keesokan subuhnya. Dokter datang menjelaskan kondisi saya. Plasenta saya dikuret, rahim saya ditekan pakai balon untuk menahan pendarahan, dan saya otomatis mendapat transfusi karena kehilangan banyak sekali darah. Kean sama papanya sudah di kamar, dan kami belum bisa sekamar karena saya masih harus diobservasi dulu di ICU selama dua malam. Sedih 😭😭 Untungnya Kean sama papanya boleh jenguk saya sekali-sekali. Sambil pemulihan di ICU, bidan juga rutin datang untuk pompa ASI supaya ASI cepat keluar. Rasanya ngga enak banget ya, sendirian dan ngga bisa sama-sama suami dan anak. Apalagi badan super lemas dan β€œdi bawah” sana juga nyut-nyutan karena ada selang balon, tampon raksasa, kateter, dan jahitan episiotomi. Sekali lagi saya benar-benar bergantung sama pain killer (obat minum dan epidural masih jalan). Singkat cerita, setelah dua malam di ICU, akhirnya saya bisa pindah sekamar sama suami dan Kean walau belum pulih banget. HB saya drop, dan harus diinfus zat besi selama 3 hari. Saat sudah senang boleh pulang di hari kelima, gantian Kean yang kuning dan ngga jadi boleh pulang karena dia harus fototerapi dan diobservasi di NICU. Bagi yang sudah lihat story highlight saya, kami akhirnya baru boleh pulang di hari ke-10 πŸ˜‚

Gendong Kean di ICU dengan tangan penuh infus

Begitulah cerita VBAC saya. Kalau ditanya mending lahiran c-section atau normal? Hmmmm….. menurut saya pribadi, tetap normal tapi kalau bisa tanpa banyak intervensi πŸ˜… Waktu melahirkan Arga, saya mendapat emergency c-section karena setelah 20 jam diinduksi kepalanya ngga turun juga. Pemulihan pasca c-section menurut saya itu wow banget sakitnya. Untuk yang tinggal cuma berdua suami di negeri orang gini buat saya pemulihan c-section rasanya menderita banget. Kerasa banget bedanya sama pemulihan lahiran normal yang ngga seberapa (walaupun dalam kasus saya nyangkut dulu di ICU 🀣). Karena itu saya trauma banget dengan operasi. Motivasi terbesar saya untuk melakukan VBAC? Agar ngga melewati pemulihan pasca c-section lagi πŸ˜…

Tapi kalau saya analisa lagi sekarang, banyak sekali “intervensi” yang akhirnya membuat proses VBAC saya tidak berjalan mulus. Intervensi seperti pemberian epidural (walaupun atas permintaan saya), yang akhirnya harus didampingi oleh pemberian oxytocin agar pembukaan bisa terus berjalan, dan lain-lain yang sebenarnya mungkin bisa dihindari agar badan bisa “memimpin” proses melahirkan dengan cara dan ritmenya sendiri. Kalau saya masih dikasih kesempatan untuk punya anak lagi, saya ingin lebih siap secara fisik dan mental. Secara fisik, olahraga rutin dan latihan napas untuk mempermudah proses melahirkan. Secara mental yang ngga kalah penting, saya ingin lebih tuned in dengan badan saya dan lebih menyiapkan diri dari dalam. Akan sangat membantu juga kalau saya bisa didampingi bidan atau dokter yang bisa memotivasi saya sepanjang persalinan dalam suasana yang intim dan tidak memicu stress (yang akhirnya bisa mengurangi intervensi-intervensi di atas). Saya akui, kehamilan kali ini saya sangat minim menyiapkan keduanya. Padahal, proses persalinan kita bukanlah sesuatu yang instan bisa disiapkan di hari-H. Itulah kenapa kita diberikan waktu sembilan bulan untuk mengandung, karena selain untuk mempersiapkan fisik bayi, itu juga waktu yang cukup untuk mempersiapkan mental dan fisik kita. Use it wisely. Pola pikir saya salah banget, saya merasa saya bisa mengandalkan pain killer dan intervensi medis saat melahirkan dan kurang mempercayai badan saya sendiri. Saya ngga bilang pain killer itu tabu, tapi akan lebih baik kalau kita bisa mempercayai badan kita lebih dulu baru obat-obatan, di samping memiliki mindset yang positif. Saya kurang sekali memberikan afirmasi positif ke badan saya. Akibat terlalu meremehkan, badan dan pikiran saya “kaget”. Yah walaupun pengalaman VBAC saya sudah ngga bisa diubah, banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik jika nanti ingin punya anak lagi. Yang pasti, saya bersyukur banget saya dan Kean bisa selamat melewati itu semua.

Sekedar tips bagi yang mau mencoba VBAC: gunakan waktu kehamilan untuk benar-benar mempersiapkan fisik dan mental, jangan anggap remeh. Persalinan bukanlah hal yang mudah, kita semua tahu itu. Kalau perlu, buatlah rencana persalinan yang rinci. Insya Allah kalau niatnya sudah bulat pasti akan dikasih jalan yang terbaik. Kemungkinan gagal melahirkan sesuai rencana tentu ada, tapi kalaupun ngga berhasil, yang penting sudah mencoba dan ngga ada penyesalan πŸ€—β€οΈ

Love

Mama Arga dan Kean 😘

5 thoughts on “My VBAC Story

  1. Selamattttt mama argaaaa! Semoga sehat selaluuuu sekeluarga. Nggak kebayang dalam posisi sedemikian, hidup ga ada sodara 😦 Untungnya dokter canggih2 di sana.

    ku mules 30 jam πŸ˜€ Alhamdulillah ga pake banyak intervensi, cuman obras aja yang dipake. Hahaaha. Posisi anakku terlentang jadi kudu diputer, konon kata dokter begitu. Tapi udahannya ga ada bekas apa2. Cuman beberapa bulan setelah melahirkan aja yang kapok.

    Kalau sekarang ditanya, yaa MAU LAGI PUNYA ANAK! Hahahaha..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s