Antara Anak, GTM, dan Peran Ibu

Gerakan Tutup Mulut! Asli, GTM ini hantu buat semua ibu2 ngga sih. Termasuk aku puun, punya dua anak dua-duanya “pernah” GTM. Kenapa aku kasih tanda kutip? Karena buibu.. yang pertama harus diubah adalah mindset kita. Kalau secara sadar atau tidak sadar kita melabeli anak GTM, yaudah kemungkinan besar akan GTM si anak 😂 Aku percaya pikiran adalah doa. Sama halnya kayak mikir “Duh, anakku susah makan”. Kalau pikiran ini berkepanjangan, akan berdampak negatif buat anak dan diri kita sendiri. Bukannya ngga boleh mikir gitu sama sekali ya, kalau lagi stress, capek, jenuh, pasti kita punya pikiran negatif—namanya juga lagi down. Kita semua pernah ada di titik terendah menjadi ibu. Tapi yang bahaya adalah kalau pikiran itu jadi tertanam dan akhirnya kita mencap anak kita susah makan (belum lagi kalau sampai dibilang ke orang-orang). Padahal, ucapan juga doa.

Tulisan tentang tips menghadapi GTM berikut aku tulis berdasarkan pengalaman pribadi, baca beragam sumber kredibel, serta hasil sharing dengan dokter dan banyak ibu. Silakan diambil baiknya dan cukup dihiraukan aja yang kurang sesuai 😊

1. Ubah persepsi kita

Anak menolak makan, pasti ada sebabnya. Entah kondisi psikis, medis, atau lingkungan sekitar yang bikin dia menolak makan. Kean misalnya, sekarang lagi teething dan nafsu makannya menurun. Atau Arga, dulu waktu aku sering stress sama omongan orang, makannya jadi beneran susah. Jadi sebelum kita ngecap anak kita susah makan, kita cari dulu yuk penyebabnya dan segera usir semua pikiran negatif dalam diri kita. Kita harus positif untuk bisa menangkal GTM, supaya aura positif ini bisa kita tularkan ke anak 😊 Jangan sampai keinginan kita untuk memberikan yang terbaik jadi berbalik menjadi beban. This is why, penting banget untuk saling memberikan dukungan ke sesama ibu!

2. Jam makan teratur

Anak perlu banget diajarkan disiplin makan supaya jam biologisnya teratur. Sama kayak kita ngajarin anak rutinitas lainnya seperti tidur, main, mandi, dll. Kalau kita kasih makanan dan cemilan terus sesuka hati, kasian dia bingung. Nanti saat jam makan bisa jadi dia udah keburu kenyang. Kalau dari pengalamanku, ada masanya Arga sukanya “nyemil mode” alias dikit-dikit tapi sering. Nah tapi dalam kondisi gini pun tetap usahakan ada jamnya. Dari yang tadinya 5x sehari jadi 7x sehari misalnya. Jadi bukan nonstop dikasih makan gitu ya. Nanti yang ada dalam pikiran dia: “ya ampun makan mulu yak 😭”. Masa pas main juga disambi makan 😩 Cukup kita aja ya yang multitask buibu, anak jangan disuruh multitask juga main sambil ngunyah wkwkwkw. Dua-duanya butuh konsentrasi loh. Apalagi sekarang lagi banyak sharingan mengenai mindful parenting. Menurutku, mindful eating adalah bagian dari mindful parenting yang harus kita latih. Memiliki jam makan yang konsisten adalah salah satunya.

3. Berikan mereka ruang untuk mandiri

Selain suka meniru, anak bayi juga lagi suka-sukanya belajar. Belajar balik badan, merangkak, berdiri, dll. Intinya, mereka lagi seneng-senengnya punya kontrol untuk belajar mandiri. Salah satu penyebab GTM adalah sesimpel anak merasa kemandiriannya tertantang (misalnya, ngga suka disuapi). Siapa bilang anak juga ngga punya insting untuk belajar makan? 😉 Jadi salah satu cari dari responsive feeding adalah: give them room to exercise their control. Beberapa cara yang bisa dicoba adalah mengkombinasikan puree (disuapi) dengan solid food (self-feeding) sejak awal MPASI. Atau bisa juga puree diberikan pakai self-feeding spoon sambil diselingi disuapi. Whatever works for you! Aku pribadi menerapkan BLW ke Arga dan Kean sejak awal MPASI, tapi bukan berarti aku ngga pernah kasih puree atau menyuapi. Hanya aja porsinya aku berikan lebih banyak BLW. Aku hanya ikuti instingku, kalau aku lagi pengen ngasih puree atau suapin, aku suapin. Kalau aku lagi mau kasih solid, aku kasih solid. Dan semua berujung pada… respon si anak. Pada akhirnya, mereka lah yang menentukan mana yang paling nyaman untuk mereka 😊

4. Variety over quantity

Kemarin Arga aku masakkin kwetiaw goreng satu piring penuh. Baru makan 1/2 piring, dia makannya udah ogah-ogahan. Lalu aku dihadapkan pada dua skenario: maksa dia untuk ngabisin makanannya atau tawarkan dia alternatif lain. Akhirnya aku tawarkan alternatif lain, dan dia berujung makan 1/2 piring kwetiaw tadi, roti keju, pisang, dan biskuit. Kadang, variasi adalah jawabannya. Sama halnya saat MPASI, mungkin anak udah “eneg” aja gitu makan rasa yang sama bersendok-sendok, cuma mereka belum bisa mengungkapkan itu. Karena itu aku selalu tawarkan 3-4 jenis makanan untuk BLW supaya anak bisa eksplor dari rasa satu ke rasa lain. Dan yang pasti semua variasinya harus bergizi ya, bukan cuma “makanan kosong” alias ngga bernutrisi.

Yang bisa dicoba juga adalah memberikan anak makanan secara bertahap, seperti ada makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Ini juga salah satu trik supaya anak mau makan sayur lebih banyak. Jadi untuk makanan pembuka bisa sayur mayur berwarna yang menggugah selera makan. Makanan utama protein dan karbohidrat. Lalu makanan penutup bisa buah-buahan lagi atau hidangan manis lainnya sesuai selera. Dengan memberikan anak porsi makanan bertahap seperti ini bikin mereka ngga terlalu overwhelmed sama porsi makanan yang sekaligus besar.

5. Atur ekspektasi

Kembali lagi ke masalah porsi. Kita ngga bisa membebankan ekspektasi kita ke anak untuk menghabiskan porsi yang kita tetapkan. Apalagi saat MPASI, transisi dari makanan menjadi menu utama ketimbang susu itu prosesnya gradual ya, bukan semalam. Memang, semua berakar dari ketakutan kita anak kurang gizi. Tapi kayak yang aku pernah share, GTM satu dua tiga hari ngga akan berefek ke asupan gizi jangka panjangnya selama kita konsisten menawarkan dia beragam variasi makanan yang bergizi setiap hari. Kalau GTM berkepanjangan baru kita harus cari penyebabnya, tapi kalau cuma beberapa hari, apalagi cuma beberapa kali waktu makan, take it easy, mommies. Just keep trying, but do it with the right mindset. Kalau kebawa stress nanti malah berlanjut hehehe. Semua panduan porsi yang ada di luar sana itu hanyalah panduan. Bukan harga mati. Jadi atur ekspektasi kita ya, porsi makan anak itu ngga sebesar yang kita bayangkan kok.

6. Ajari mereka mencintai makanan

Yang menjadi prinsipku sampai hari ini adalah: “let’s not battle over food with our children”. Ngga akan ada yang menang ya buibu, yang ada kedua belah pihak sama-sama “kalah” alias cape fisik dan mental. Waktu makan itu bukan adu kekuatan, adu mulut, atau adu strategi, tapi sebuah aktivitas yang bikin badan kita sehat dan aktivitas yang seharusnya dinikmati. Gampang ya kayaknya ngomong gini, tapi kita harus bisa kondisikan seperti ini. Berat ya jadi ibu 😂

Ajak mereka ngobrol tentang makanan, bahkan dari awal MPASI. Salah satu hal yang aku suka dari metode BLW adalah anak langsung terekspos dengan berbagai jenis makanan. Mereka jadi tahu bentuk telur itu gimana, bisa diapain aja, sayur itu ada apa aja, warnany apa aja, dll. Dan itu jadi bahan omongan aku di meja makan. Kalau udah gedean dikit, bisa ajak mereka ikut masak di dapur supaya mereka terlibat dalam proses menyiapkan makanan. Satu hal lagi, jangan takut berantakan! It’s part of the learning process. Semoga keikhlasan kita untuk beresin berantakannya anak makan jadi berkah untuk kita semua. Last but not least

Aktivitas makan bersama sambil ngobrol dan bercanda itu adalah hal yang mahal harganya jaman sekarang, saat semua orang sibuk dengan gadgetnya di meja makan. Selagi kita bisa, mari kita ciptakan itu bersama anak-anak kita, sekalipun hanya bisa saat weekend ❤️

Kira-kira itu sharingan tentang anti GTM versi aku. Yang paling tau anak buibu cuma buibu sendiri, jadi tips yang paling mutakhir adalah: “trust your instinct” kayak yang aku bilang di atas. Selain itu, perdalam juga ilmu terus menerus supaya kita ngga gampang panik. Seringkali stress bersumber dari kurangnya pengetahuan kita akan sesuatu. Semakin banyak baca, sharing, ikut komunitas parenting, dan jika dibutuhkan berkonsultasi dengan ahlinya, akan semakin kuat juga pijakan kita dalam mengasuh anak, termasuk menghadapi GTM. Semoga bisa bermanfaat ya dan selamat berakhir pekan 🥰

Love,

Ayuta, Arga dan Kean

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s